Kuliah Nanti Jadi Apa? Mungkin Pertanyaannya Sudah Saatnya Berubah

Oleh: Dr. Sama’ Iradat Tito, S.Si., M.Si.
Dosen FMIPA Universitas Islam Malang
“Kalau kuliah di jurusan ini, nanti jadi apa?”
Sebagai dosen, saya cukup sering menjumpai pertanyaan semacam itu. Pertanyaan sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang besar: apakah ilmu yang dipelajari hari ini masih akan dibutuhkan ketika lulus nanti?
Kegelisahan itu sangat wajar. Siswa ingin memastikan masa depannya. Orang tua ingin memastikan pilihan anaknya tepat. Tidak mengherankan jika ketika memilih program studi, pertanyaan berikutnya sering muncul:
“Jurusan mana yang paling mudah mendapatkan pekerjaan?”
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan tersebut. Namun, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, mungkin sudah saatnya kita mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda.
Apakah kuliah hanya untuk mendapatkan pekerjaan?
Dunia Berubah, Kemampuan Harus Bertumbuh
Kecerdasan buatan berkembang pesat. Teknologi mengubah cara manusia bekerja. Profesi baru muncul, sementara sebagian pekerjaan mengalami perubahan, bahkan mungkin tidak lagi sama ketika mahasiswa yang masuk kuliah hari ini lulus beberapa tahun mendatang.
Lalu, apakah kita harus memilih ilmu hanya berdasarkan pekerjaan yang tersedia saat ini?
Mungkin tidak.
Sebab kita tidak benar-benar tahu seperti apa daftar pekerjaan yang akan dominan di masa depan. Yang lebih dapat kita bangun adalah kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi, dan menggunakan ilmu untuk menghadapi persoalan baru.
Teknologi boleh berubah. Dunia kerja boleh berubah. Tetapi manusia tetap membutuhkan pangan, kesehatan, air bersih, lingkungan yang sehat, biodiversitas, dan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar lulusan yang siap mengisi pekerjaan yang ada, tetapi manusia yang siap mengambil peran ketika kebutuhan dan persoalan baru muncul.
Ilmu menjadi fondasi. Teknologi menjadi penguat. Solusi menjadi tujuan.
Jadi, Kuliah Biologi Nanti Jadi Apa?
Ketika mendengar kata Biologi, kita mungkin langsung berfikir: Pendidik, Peneliti, Laboran, atau Analis.
Semua benar. Tetapi jika Biologi hanya dijelaskan melalui daftar profesi, kita justru sedang mempersempitnya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Dengan ilmu Biologi, persoalan apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Biologi bukan sekadar mempelajari nama dan klasifikasi makhluk hidup. Biologi membantu kita memahami kehidupan—dari tingkat molekul, sel, organisme, hingga interaksi dalam ekosistem.
Dari pemahaman tersebut terbuka berbagai persoalan dan peluang: pangan, kesehatan, biodiversitas, konservasi, lingkungan, bioteknologi, hingga pemanfaatan teknologi dan data untuk memahami sistem kehidupan yang semakin kompleks.
Karena itu, AI bukan alasan untuk meninggalkan Biologi.
Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat yang memperluas kemampuan manusia untuk mengamati, menganalisis, memprediksi, dan memahami kehidupan.
Masa depan Biologi bukan meninggalkan ilmu dasarnya, tetapi mempertemukannya dengan teknologi, riset, dan kebutuhan nyata.
Memahami Kehidupan, Menjaga Keberlanjutan
Ada satu hal yang sering kita lupakan: manusia tidak pernah berdiri sendiri.
Udara yang kita hirup, air yang kita minum, pangan yang kita konsumsi, mikroorganisme yang hidup bersama kita, dan lingkungan yang menopang kehidupan menunjukkan bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem.
Karena itu, belajar Biologi pada akhirnya bukan hanya belajar tentang makhluk hidup. Kita sedang belajar memahami sistem kehidupan tempat kita sendiri menjadi bagiannya.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar:
Bagaimana kehidupan dapat terus berlangsung secara berkelanjutan?
Di sinilah Sains Lingkungan menjadi penting.
Sains Lingkungan berhadapan dengan persoalan pencemaran, perubahan iklim, biodiversitas, sumber daya alam, daya dukung lingkungan, serta hubungan manusia dengan ekosistem.
Secara sederhana:
Biologi memahami kehidupan. Sains Lingkungan menjaga keberlanjutan kehidupan.
Keduanya bertemu pada satu pertanyaan besar:
Bagaimana manusia dapat berkembang tanpa merusak sistem kehidupan yang menopangnya?
Dari Pencari Kerja Menjadi Pemecah Masalah
Bagi saya, di sinilah pendidikan tinggi perlu mengubah cara pandangnya.
Mahasiswa tentu perlu dipersiapkan memasuki dunia kerja. Tetapi pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menjadi job seeker.
Mahasiswa perlu tumbuh menjadi problem solver.
Bukan hanya bertanya:
“Di mana saya bisa bekerja?”
Tetapi:
“Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Melihat pencemaran lalu mencari solusi. Melihat persoalan pangan lalu mengembangkan inovasi. Melihat ancaman biodiversitas lalu merancang konservasi. Melihat data lalu mengubahnya menjadi informasi yang bermanfaat.
Karena itu, pendidikan tidak cukup menghasilkan lulusan yang tahu.
Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang mampu—mampu berpikir, belajar, beradaptasi, berkolaborasi, dan menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan.
Memilih Kampus Berarti Memilih Ruang untuk Bertumbuh
Karena itu pula, memilih perguruan tinggi bukan sekadar memilih tempat untuk memperoleh gelar.
Kita sedang memilih ruang untuk bertumbuh: tempat membangun ilmu, mengasah keterampilan, melakukan riset, mengenal teknologi, berkolaborasi, dan berhadapan dengan persoalan nyata.
Dalam konteks itulah FMIPA Universitas Islam Malang memiliki ruang yang relevan.
Dengan Program Studi Biologi dan Program Studi Sains Lingkungan, FMIPA UNISMA berada pada bidang keilmuan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan, biodiversitas, lingkungan, sumber daya alam, teknologi, dan keberlanjutan.
Namun, transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan menambah program studi atau mengubah nama institusi.
Yang lebih penting adalah mengubah cara berpikir:
– Dari memahami menjadi menerapkan.
– Dari mencari pekerjaan menjadi mengambil peran.
– Dari pengetahuan menjadi solusi.
Maka, Pertanyaannya Perlu Diubah
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:
“Kuliah Biologi nanti jadi apa?”
dan mulai bertanya:
“Dengan ilmu Biologi, masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Jangan hanya bertanya:
“Lulusan Sains Lingkungan bekerja di mana?”
Tetapi:
“Dengan ilmu Sains Lingkungan, masa depan seperti apa yang bisa saya bantu jaga?”
Dan ketika memilih perguruan tinggi, jangan hanya bertanya:
“Kampus mana yang akan memberi saya gelar?”
Tanyakan:
“Kampus mana yang membantu saya menjadi lebih berilmu, lebih mampu, lebih adaptif, dan lebih bermanfaat?”
Sebab kita tidak hanya sedang memilih tempat untuk kuliah. Kita sedang memilih bekal untuk mengambil peran dalam kehidupan. Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan:
“Saya nanti jadi apa?”
Tetapi:
“Saya nanti mampu melakukan apa untuk kehidupan?”
Karena masa depan bukan hanya sesuatu yang akan kita masuki.
Masa depan adalah sesuatu yang mulai kita bangun dari pilihan yang kita buat hari ini.
