
Strategi konservasi ikan lokal dan endemik kembali digaungkan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis hibah institusi, yang diselenggarakan pada Sabtu (2/8/2025) di kawasan konservasi ikan PAKWALI, Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah kolaboratif antara civitas akademika dan masyarakat pesisir sungai irigasi, untuk memperkuat pengelolaan sumber daya ikan air tawar berbasis konservasi dan teknologi ramah lingkungan.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dekan FMIPA UNISMA, Bapak Dr. Husain Latuconcina, S.Pi., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa penguatan literasi konservasi dan kemandirian ekonomi masyarakat melalui edukasi perikanan sangat selaras dengan visi UNISMA sebagai kampus rahmatan lil ‘alamin. “Ini adalah bentuk nyata pengabdian ilmu kepada masyarakat, sekaligus jembatan sinergi antara kampus dan desa,” ungkap beliau.
Sambutan juga disampaikan oleh perwakilan mitra komunitas konservasi PAKWALI, Bapak Imam Dairobi. Ia menyampaikan apresiasi terhadap kehadiran tim pengabdian dari UNISMA. “Kami, warga Desa Bakalan, telah merintis PAKWALI sejak 2021 sebagai pusat konservasi ikan lokal seperti nila, tombro, dan koi. Namun penguatan kapasitas masyarakat dalam hal teknologi, pakan, dan edukasi sangat kami perlukan. Terima kasih atas sinerginya,” ujar Imam Dairobi. Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dan dosen dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di desa.
Senada dengan hal itu, Kepala Dusun menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor. “Kami berharap kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan. Warga kami butuh pendampingan, bukan hanya penyuluhan sekali selesai,” ujarnya.
Materi penyuluhan pertama bertema “Konservasi Ikan Lokal & Ancaman Ekosistem Sungai” disampaikan oleh Bapak Hamdani Dwi Prasetyo, S.Si., M.Si., dosen Biologi FMIPA UNISMA. Ia menjelaskan bahwa meski kualitas air di kawasan PAKWALI sudah tergolong bersih, namun masih ditemukan keberadaan kerang-kerang air tawar yang bisa mengganggu keberlangsungan budidaya ikan. Menurutnya, salah satu solusi alami yang bisa dilakukan adalah dengan menanam kangkung di tepi sawah atau kolam dan mengikatnya di sisi-sisi tertentu. “Kangkung berfungsi menyerap nutrien berlebih di air, mengurangi pencemaran, sekaligus meningkatkan kadar oksigen alami dalam perairan,” jelas Hamdani.
Materi kedua bertema “Teknologi Nanobubble & Strategi Kualitas Air” dibawakan oleh Ibu Gatra Ervi Jayanti, S.Si., M.Si., dosen Biologi FMIPA UNISMA. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan secara teknis mengenai penerapan teknologi nanobubble, yaitu sistem mikrooksigenasi air yang mampu meningkatkan pertumbuhan ikan secara signifikan. “Dengan aplikasi nanobubble yang tepat, pertumbuhan ikan bisa dipercepat karena oksigen yang terlarut lebih tinggi dan stabil, terutama di kolam padat tebar,” terang Gatra. Teknologi ini diyakini cocok diterapkan di kawasan konservasi semi-alami seperti PAKWALI.
Sesi penyuluhan dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama warga setempat. Salah satu warga, mengajukan pertanyaan tentang cara menjaga kualitas air saat musim kemarau. Menanggapi itu, Ibu Gatra menekankan pentingnya pengaturan debit air masuk dan penggunaan tanaman air yang membantu stabilisasi suhu.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan modul edukasi konservasi kepada perwakilan kelompok tani ikan serta kunjungan ke area keramba sebagai bagian dari kegiatan lapangan. Melalui program ini, FMIPA UNISMA menegaskan peran strategis akademisi dalam menjawab isu ekologi dan ekonomi secara simultan, dengan harapan model konservasi berbasis komunitas seperti PAKWALI dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
